skeptis atau optimis?

Dunia ini diisi sebagian oleh orang-orang yang optimist, seperti leaders, motivators, mental/spiritual guru, happiness advocators, tetapi juga tidak kalah banyaknya adalah populasi yang skeptis, bukan hanya orang yang memiliki masalah dengan kebahagiaan dan ketergantungan mental, tetapi juga kalangan intelektual, scientist dan engineers.  Pertanyaan yang selalu mengganggu saya dari masa kecil, kemana kita harus berpihak? Kapankah kita harus mengikuti penganjur skeptisism, dan bilamana kita harus berpikir mengikuti mahzab optimisme? Hampir semua buku self help, self motivation adalah penganjur optimism, seluruh buku tentang mental dan spiritual melihat skeptisism sebagai akar ke-tidak-bahagiaan.  Sementara disisi lain kita ketahui bahwa skeptisism adalah fondasi dari curiosity yang dibutuhkan untuk membangun pengetahuan.

Pelan-pelan dalam perjalanan hidup, saya melihat trick-nya. Menggabungkan skeptisism dengan optimism seolah suatu paradoks, tetapi bukankah hidup ini adalah tentang menyelesaikan paradox? Optimisme menyederhanakan cara berpikir; hanya yang sederhanalah yang akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Tetapi apakah skeptisism memang selalu berkonotasi negatif? Menurut saya skeptisism diperlukan, terutama karena ilmu pengetahuan berkembang dari skeptisism. Bagaimana kita akan meyakini sesuatu yang kita tahu dibelakang hari akan kita pertanyakan?  Tetapi kita tidak perlu khawatir, karena manusia sudah melakukan hal itu berabad-abad, dan yet tetap bisa survive. Mental attitude untuk tetap mampu berpikir skeptis dan kritis tetapi tidak kehilangan ketegasan dalam bernalar adalah suatu skill yang dibutuhkan manusia modern dijaman sekarang. Berpikir hitam putih, judgmental dan stereotip memang menyederhanakan banyak hal, tetapi mungkin secara sistemik juga tidak selalu benar. Sebaliknya selalu berpikir skeptis juga tidak akan menyelesaikan sebagian besar masalah.  Itu dunia yang cenderung didominasi pemikiran hitam putih, benar salah, menang kalah.

Kemampuan otak manusia terbatas untuk mencerna fenomena alam yang sangat kompleks. Untuk itu manusia membutuhkan simbol, model dan simplifikasi. Lebih mudah memahami perjalanan cahaya mengikuti garis lurus, orbit planet mengikuti lintasan elips, gaya berbanding lurus dengan percepatan dan sebagainya dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Pemikiran skeptislah yang mengubah takhayul, sihir dan dogma menjadi ilmu pengetahuan abad pertengahan, yang dibawa oleh Copernicus, Kepler dan Newton.

Simbol, model dan simplifikasi adalah kemampuan manusia yang membedakannya dengan makhluk hidup di planet ini, dan membawa manusia ke peradabannya yang sekarang. Sekasar dan setidak akuratnyapun model yang dipakai, apa yang dihasilkan sudah berhasil membawa manusia jauh meninggalkan species lain. Linear system dan algebra melahirkan telekomunikasi, penerbangan, mikroelektronik dan komputer. Seperti telekomunikasi menirukan telepathy, penerbangan menirukan burung, mikro elektronik menirukan sel dan komputer menirukan otak manusia, begitu jauh terpautnya dari realitas, tetapi apa yang dihasilkan telah menyingkirkan species yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s